MIDAH SI MANIS BERGIGI EMAS
Judul : Midah si manis bergigi emas.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta 2003.
Tebal : 132 halaman.
Buku Pramoedya ini menggambarkan penderitaan kaum perempuan karena perlakuan buruk kaum laki laki. Midah seorang gadis manis anak Haji Abdul pedagang dari kampung Cibatok tapi sudah tinggal di Jakarta. Haji Abdul, penggemar Umi Kalsum, memperlakukan anaknya dengan keras. Suatu hari dia tega memukulnya ketika dia tahu Midah mendengarkan kroncong karena dia menganggap lagu kroncong adalah haram.
Midah dikawinkan dengan Haji Terbus dari kampung Cibatok. Orangnya gagah, makmur, tegap, berkumis lebat dan bermata tajam. Sayang Midah baru tahu istrinya sudah banyak ketika dia sudah hamil tiga bulan. Midahpun lari dari suaminya. Tidak berani langsung ke rumah orang tuanya, Midah menuju rumah Riah, pembantunya dulu. Riah menyampaikan kabar ini kepada haji Abdul. Reaksinya marah sehingga Midah terpaksa pergi. Dia lantas bertemu dan bergabung dengan sebuah kelompok pengamen keroncong. Dalam keadaan hamil Midah, yang dipanggil si manis, ikut berkeliling untuk menyanyi.
Di tengah kesulitan – tidak punya uang dan tidak punya suami- Midah melahirkan anaknya. Bidan dan karyawan rumah sakit memperlakukannya dengan sinis dan kejam. Ketika mau keluar, bayinya telanjang, tidak diberi pakaian apapun. Di penginapan tempat rombongan pengamen tidur dia disambut dengan dingin. Tapi kepala rombongan mau mengawininya. Midah bingung karena dia belum resmi cerai. Dia menolak sehingga dia dibenci.
Ketika sedang menyusi anaknya Midah bertemu Riah. Midah tidak mau diajak pulang. Riah mengikuti dan melihat bagaimana anak mantan majikannya mengamen keliling. Untuk memenangkan persaingan dengan Nini penyayi lain di rombongan, Midah pasang gigi emas. Akibatnya konflik menajam dan dia tinggalkan rombongan itu.
Berita tentang Midah sampai ke Haji Abdul yang sudah surut usahanya. Dia terguncang. Dengan sedih dicarinya Midah ke berbagai tempat. Sayang usahanya gagal sehingga dia jatuh sakit. Siang malam Haji Abdul tenggelam dalam zikir.
Midah menyanyi di daerah Jatinegara. Suatu hari Midah bertemu seorang polisi bernama Ahmad. Dia melatih Midah menyayi. Midah mulai merasa mencintai nya sampai mereka berbuat terlalu jauh.
Midah akhirnya menyayi di radio. Orang tuanya mendengarkan. Ibunya lantas mencarinya. Akhirnya dia temukan rumah Midah. Ketika dia datang hanya bertemu Rodjali anak Midah. Rodjali dibawanya pulang.
Suatu hari Midah sampaikan pada Ahmad bahwa dia sudah hamil. Tapi Ahmad menolak mengakui karena dia yakin midah punya banyak pacar. Midah terpaksa pulang dan mengakui keadaannya.
Beberapa lama di rumah orang tuanya Midah memutuskan pergi lagi. Rodjali ditinggal dan dengan anak dalam kandungannya dia pergi. Kecantikannya, kepandaiannya menyayi dan kewanitaannya dijadikan sumber rejekinya dengan melanggar segala norma ajaran orang tuanya. Dia menjadi penyayi, bintang film dan lebih lagi.
Midah adalah korban laki laki. Ayahnya memperlakukannya terlalu keras. Suaminya tidak benar benar memperhatikannya. Ahmad hanya ingin kenikmatan dari dia. Orang lain juga hanya menginginkan kecantikannya.
*
Selasa, 17 Maret 2009
Nasib Malang seorang wanita
Posted by Bambang Udoyono at 19.06 0 comments
Minggu, 15 Maret 2009
Sekali Peristiwa di Banten Selatan
Judul : Sekali Peristiwa di Banten Selatan.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer.
Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta, 2006.
Tebal : 126 halaman.
Buku ini bersetting Banten selatan, ketika ada pembrontakan DI. Pramoedya menceritakan kemelut daerah itu akibat pembrontakan DI. Tokoh utamanya Ranta seorang buruh miskin. Perawakannya gagah tapi karena miskin kurang gizi dan tinggal di gubuk bambu. Istrinya bernama Ireng yang sering mengeluh atas kemiskinan dan kacaunya keamanan akibat perang. Suatu hari datang juragan Musa yang makmur dan selalu berpakaian rapi. Dia memberi uang seringgit dan memaksa Ranta mencuri bibit karet dan teh dari perkebunan. Malam harinya Ranta berhasil mencuri bibit tapi Musa tidak mau memberi tambahan upah. Musa bahkan merampas bibit dan mengancam akan melaporkan Ranta.
Ranta sudah lama tidak suka dengan Musa tapi tidak berdaya menolak keinginannya. Suatu hari ketika Musa datang lagi Ranta tidak bisa menahan amarahnya. Musa takut lalu lari. Tas dan tongkatnya ketinggalan. Inilah awal masalah bagi Musa.
Di rumah Nyonya Musa dikejutkan dengan kedatangan Musa yang lantas marah marah dengan istrinya sampai bertengkar. Kemudian datang Djameng anak buah Musa melapor bahwa komandan sedang pergi ke kota dan bahwa dia melihat Ranta membawa tongkat dan tas Musa. Setelah itu datang Pak Kasan dan Rodjali pembantu Musa. Kasan ini punya senjata dan anak buah. Musa perintahkan dia untuk memberesi Ranta.
Dalam pertengkaran itu Musa mengaku sebagai seorang petinggi DI. Istrinya tambah marah karena orang tuanya adalah korban DI. Musa kaget ketika mendadak komandan masuk. Dia sudah lama curiga karena Musa tidak pernah diganggu DI sedangkan orang lain sudah pernah. Lagipula dia tadi mendengar sendiri pengakuan Musa. Dia juga mendapatkan tas Musa yang berisi surat surat penting DI. Musa tentu saja membantah.
Di tengah pertengkaran terdengar suara burung yang menjadi kode DI. Segera pasukan bersembunyi di balik pintu. Tidak lama kemudian datang rombongan orang dipimpin oleh Lurah. Dia menyebut Musa Residen (pimpinan wilayah). Dia melapor bahwa komandan pergi cuti ke kota dengan tiga orang dan bahwa di markas tentara hanya ada sepuluh orang. Dia juga mengusulkan agar malam itu menyerang markas tentara dengan duapuluh orang. Karena di bawah ancaman Musa berlagak tidak tahu apa apa.
Setelah Lurah pergi komandan dan pasukannya muncul lagi melanjutkan pemeriksaan kepada Musa. Meskipun sudah terpojok Musa masih saja membantah. Terdengar lagi suara burung kode DI. Kemudian datang lagi Kasan. Dia melapor bahwa Ranta tidak ada di rumah dan dia tidak menemukan tongkat dan tas Musa. Dia juga sudah membakar rumah ranta. Lagi lagi Musa membantah, tapi Kasan malah menyatakan bahwa Musalah yang memberi perintah pembakaran rumah dan melakukan perang urat sayaraf. Waktu itulah komandan dan pasukannya muncul menangkap semua anggota gerombolan. Ketika kemudian Ranta muncul komandan lalu mengangkatnya menjadi lurah sementara.
Di lain hari komandan menemui lurah Ranta untuk membahas situasi keamanan yang terancam oleh gerombolan si Oneng. Ranta yang mantan Heiho siap membantu mengorganisir pertahanan rakyat. Dia mengerahkan pemuda untuk mambantu tentara. Ketika istri Musa pamit pulang ke Sukabumi Ranta paparkan kebusukan Musa. Dulu Musa miskin juga. Ketika jaman Jepang Musa mengakali orang yang berangkat romusha. Mereka disuruh tanda tangan yang ternyata penyerahan tanah mereka. Kemudian pengalaman dia dan orang lain yang dipaksa mencuri bibit karet dan teh dari perkebunan.
Beberapa waktu kemudian terjadi tembak menembak di malam hari. Terdengar suara gedoran di rumah Ranta ketika dia pergi sedangkan istrinya hanya dengan Rodjali dan istri Musa yang terjebak tidak bisa pulang. Ireng dan Rodjali melawan dan berhasil menewaskan dua orang sehingga memukul mundur penyerang. Sementara itu komandan juga berhasil mengalahkan gerombolan.
Tiga bulan kemudian penduduk desa dan tentara bergotong royong membangun sekolah. Di antara waktu kerja itu terjadi dialog mengenai persoalan yang dihadapi masyarakat. Dialog sangat hidup, banyak usulan diajukan. Pada pokoknya mereka sepakat bekerja sama untuk memajukan pertanian dan transportasi untuk memasarkan produk pertanian mereka. Nyonya Musa beretekad tidak jadi pulang karena dia mau mengajar baca tulis di desa itu. Dia juga punya solusi dengan mengusulkan tanah liar digarap ramai ramai. Bagian terakhir melukiskan kebulatan tekad mereka untuk bersatu dan bekerja keras untuk kemajuan desa dan anak cucu mereka.
Pramoedya dengan cukup indah melukiskan konflik yang menyengsarakan rakyat. Meskipun demikian dengan menyatunya semua unsur masyarakat tercipta kekuatan yang mampu mengatasi masalah keamanan. Di bagian terakhir agaknya Pramoedya mengutarakan masyarakat impiannya. Dialog antara lurah, penduduk desa dengan tentara mengenai permasalahan mereka barangkali menyimbolkan masyarakat terbuka dan demokratis di mana ada dialog antara rakyat dan penguasa. Kebijakan pemerintah dibuat melalui penjaringan aspirasi rakyat. Lurah Ranta mungkin simbol pemimpin yang berasal dari rakyat yang setelah naik tetap mendengarkan dan pro rakyat. Komandan menyimbolkan militer yang juga bekerja sebagai pelindung dan bahkan memecahkan masalah masyarakat seperti disimbolkan dengan menyediakan truk. Nyonya Musa mungkin menjadi simbol kaum cendekiawan yang seharusnya ikut memikirkan masalah masyarakatnya dan meneteskan ilmu ke bawah. Ireng adalah simbol kaum perempuan yang juga berperan dalam kesejahteraan rakyat.
*
Posted by Bambang Udoyono at 20.18 0 comments
Labels: Banten, Darul Islam
Rabu, 26 November 2008
Rabu, 19 November 2008
Problem and Prospect of Grassroot legislature candidates in Indonesia
Posted by Bambang Udoyono at 22.22 0 comments
Senin, 10 November 2008
Cerita Mangir versi Pramoedya
MANGIR
Judul : Mangir
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Tebal : 114 halaman.
Menulis dengan latar belakang sejarah, Pramoedya kali ini memakai bentuk drama. Setting cerita ini adalah Mataram, Yogyakarta sekarang, di sekitar abad enambelas. Ini adalah cerita rakyat Mataram yang masih hidup sampai sekarang, yang mengisahkan penaklukan wilayah Mangir oleh Senopati. Versi Pram agak berbeda dengan versi rakyat. Dalam opini Pram Mangir adalah sebuah republik desa dan penguasanya bukanlah raja tapi tetua. Menurut Pram tetua adalah pemimpin yang pro rakyat sedangkan raja adalah beban bagi rakyat. Jadi cerita ini dipakai oleh Pram untuk mengekspresikan ide politiknya yang anti feodalisme.
Mangir adalah sebuah wilayah kecil di sebelah barat kota Yogyakarta sekarang. Kisah ini terjadi di masa awal Mataram. Penguasanya adalah Panembahan Senopati, anak pendiri Mataram Ki Ageng Pemanahan yang tinggal di Kota Gede sekarang. Saat itu Mataram sedang tumbuh dan meluaskan wilayah dengan penaklukan secara militer. Dikisahkan pasukan Mangir sulit dikalahkan oleh Mataram. Panembahan Senopati lantas merancang sebuah strategi. Anak perempuannya sendiri yang bernama Pembayun diperintahkan menjadi anggota sebuah tim intelejen di bawah pimpinan Ki Juru Mertani, seorang penglima kepercayaan Senopati. Pembayun disuruh menjadi pengamen lalu pergi ke Mangir. Di sana dia berhasil memikat Wanabaya tetua Mangir sehingga menjadi istrinya. Pemimpin Mangir yang lain sebenarnya kurang setuju dengan keputusan Wanabaya menikahi Pembayun tapi karena Wanabaya sudah serius mereka mengalah. Meskipun demikian kecurigaan mereka masih ada.
Suatu hari Pembayun terpojok oleh kecurigaan para pemimpin Mangir sehingga terpaksa mengaku sebagai anak Senopati. Meskipun kaget Wanabaya mau diajak pulang ke istana Mataram untuk sowan kepada mertuanya. Di istana Senopati sudah menyiapkan pasukan untuk membantainya. Walaupun melawan dengan gigih Mangir tewas di keroyok oleh tentara Mataram sehingga wilayahnya berhasil dikuasai Senopati. Dalam pengeroyokan itu Pemanahan, ayah Senopati yang sudah sepuh juga ikut tewas.
Buku ini karya Pram ini beda dengan karyanya yang lain karena berbentuk drama, bukan novel. Mungkin banyak orang lebih terbiasa membaca novel. Meskipun demikian Pram berhasil dengan bagus melukiskan kekuasaan kerajaan yang bengis dan ekspansionis. Kelihatan bahwa gagasan Pram adalah egaliter dan anti feodalisme. Barangkali dia sedang mempromosikan egalitarianisme dan mengikis feodalisme.
*
Posted by Bambang Udoyono at 23.33 0 comments
Labels: Mangir, Mataram, Panembahan Senopati, Yogyakarta
Jumat, 17 Oktober 2008
Rumah Kaca
RUMAH KACA
Judul : Rumah Kaca.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Tebal : 646 halaman.
Dalam sekuel keempat ini, setelah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah, Pramoedya melukiskan upaya pemerintah kolonial mengendalikan gerakan kemerdekaan yang semakin kuat. Tokoh utamanya sudah berganti, bukan lagi Minke tapi Jacques Pangemanann, seorang inspektur polisi pribumi dari suku Menado yang dipromosikan jadi staf Algemeene secretarie di Buitenzorg. Tugasnya mengamati situasi sosial politik dan membuat laporan terutama mengenai gerakan politik pribumi. Hasil kerjanya akan jadi bahan pertimbangan gubernur jendral dalam membuat kebijakan.
Dia berusaha meneror Minke dengan memakai Robert Suurhof, kepala gerombolan preman De Knijppers, tapi justru mereka yang ditembak oleh Prinses Kasiruta, istri ketiga Minke. Kemudian Raad van Justitie memutuskan Minke dibuang ke Ambon.
Selain Minke, dia juga mengamati Syarikat Islam, Boedi Moelyo dan Indische Partij. Untuk mendiskreditkan SI dia merancang huru hara anti Cina dengan memakai tokoh preman Cor Oosterhof. Huru hara adu domba Islam versus Cina terjadi di Sukabumi, Gresik, Kuningan, Madiun, Caruban, Weleri, Grobogan. Tapi tidak di Sala dan SI tidak menjadi kerdil karenanya.
Ancaman bagi gubermen semakin besar. Setelah Minke dibuang ketua SI dipegang oleh Mas Tjokro yang tinggal di Surabaya. SI tidak jadi kerdil tapi malah berkembang. Koran SI, Peroetoesan yang berbahasa Melayu, maju pesat. Indische Partij punya De Expres yang berbahasa Belanda. Ada juga Sin Po bagi orang Cina. Mereka secara samar bersikap anti gubermen dan pro kemerdekaan. Mereka menawarkan pemikiran maju, pengajaran dan pendidikan. Indische Partij bersikap anti orang Eropa asli dan memihak kepada orang Indo. Atasan Pangemanann curiga IP akan mampu membikin pemerintahan sendiri. Boedi Moelyo membangun asuransi jiwa dan kegiatan sosial. Selain itu banyak tumbuh organisasi kaum pribumi. Tumbuhnya nasionalisme pribumi dan kekuatan kekuatan di masyarakat membuat Pangemanan harus menjaga agar Boedi Moelyo, SI, Kuo Min Tang, dan Indische partij tetap jauh, jangan sampai bersatu.
Pekerjaan Pangemanann jadi lebih banyak sehingga dia tidak bisa cuti ke Eropa padahal istrinya sudah sangat ingin pulang ke Prancis. Akibatnya keharmonisan rumah tangga mereka jadi korban. Pangemanann jatuh ke alkohol dan prostitusi. Akhirnya istri dan anaknya meninggalkannya. Mereka pulang ke Eropa.
Suatu hari atasannya menekannya agar menangkap tiga serangkai IP Wardi, Douwager dan Tjipto. Dia ditugasi mengawasi penangkapan itu dan juga harus menemukan alasan penangkapan. Alasan resmi adalah karena kegiatan jurnalistik mereka, buka karena politisi. Mereka dibuang ke Belanda.
Akhirnya Minke dibebaskan oleh gubernur jendral dari pembuangannya di Ambon tapi tekanan terus dilakukan. Sebelum Minke datang di Jawa istrinya sudah lebih dulu dipaksa pulang ke Ambon. Rumah dan semua asetnya disita. Semua temannya juga ditekan agar tidak mau menerimanya. Bahkan ketika dia sakit dokter dan rumah sakit dipaksa melayani dengan buruk sehingga akhirnya Minke meninggal karena sakit yang tidak ditangani dengan baik.
Buku ini punya banyak halaman yang dipakai untuk menggambarkan pergulatan pemikiran Pangemanann. Ada kekagumannya pada Minke. Ada keraguannya menangkap tiga serangkai IP. Ada deskripsi kepusingannya terjepit pekerjaan. Ada paparan perkembangan gerakan politik kaum pribumi Hindia. Ada ekspresi kesebalannya dengan atasan. Ada paparan situasi politik internasional di terutama di Eropa dan Asia.
Di buku ini Pram terlihat memiliki wawasan politik global. Dengan indah dia paparkan upaya pemerintah kolonial menaklukkan gerakan politik kaum pribumi dengan cara kotor dan keji seperti dalam penghancuran Minke, Siti Soendari dan Tiga Serangkai.
*
Posted by Bambang Udoyono at 19.30 0 comments
Labels: Minke, Pramoedya, Syarikat Islam