RUMAH KACA
Judul : Rumah Kaca.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Tebal : 646 halaman.
Dalam sekuel keempat ini, setelah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah, Pramoedya melukiskan upaya pemerintah kolonial mengendalikan gerakan kemerdekaan yang semakin kuat. Tokoh utamanya sudah berganti, bukan lagi Minke tapi Jacques Pangemanann, seorang inspektur polisi pribumi dari suku Menado yang dipromosikan jadi staf Algemeene secretarie di Buitenzorg. Tugasnya mengamati situasi sosial politik dan membuat laporan terutama mengenai gerakan politik pribumi. Hasil kerjanya akan jadi bahan pertimbangan gubernur jendral dalam membuat kebijakan.
Dia berusaha meneror Minke dengan memakai Robert Suurhof, kepala gerombolan preman De Knijppers, tapi justru mereka yang ditembak oleh Prinses Kasiruta, istri ketiga Minke. Kemudian Raad van Justitie memutuskan Minke dibuang ke Ambon.
Selain Minke, dia juga mengamati Syarikat Islam, Boedi Moelyo dan Indische Partij. Untuk mendiskreditkan SI dia merancang huru hara anti Cina dengan memakai tokoh preman Cor Oosterhof. Huru hara adu domba Islam versus Cina terjadi di Sukabumi, Gresik, Kuningan, Madiun, Caruban, Weleri, Grobogan. Tapi tidak di Sala dan SI tidak menjadi kerdil karenanya.
Ancaman bagi gubermen semakin besar. Setelah Minke dibuang ketua SI dipegang oleh Mas Tjokro yang tinggal di Surabaya. SI tidak jadi kerdil tapi malah berkembang. Koran SI, Peroetoesan yang berbahasa Melayu, maju pesat. Indische Partij punya De Expres yang berbahasa Belanda. Ada juga Sin Po bagi orang Cina. Mereka secara samar bersikap anti gubermen dan pro kemerdekaan. Mereka menawarkan pemikiran maju, pengajaran dan pendidikan. Indische Partij bersikap anti orang Eropa asli dan memihak kepada orang Indo. Atasan Pangemanann curiga IP akan mampu membikin pemerintahan sendiri. Boedi Moelyo membangun asuransi jiwa dan kegiatan sosial. Selain itu banyak tumbuh organisasi kaum pribumi. Tumbuhnya nasionalisme pribumi dan kekuatan kekuatan di masyarakat membuat Pangemanan harus menjaga agar Boedi Moelyo, SI, Kuo Min Tang, dan Indische partij tetap jauh, jangan sampai bersatu.
Pekerjaan Pangemanann jadi lebih banyak sehingga dia tidak bisa cuti ke Eropa padahal istrinya sudah sangat ingin pulang ke Prancis. Akibatnya keharmonisan rumah tangga mereka jadi korban. Pangemanann jatuh ke alkohol dan prostitusi. Akhirnya istri dan anaknya meninggalkannya. Mereka pulang ke Eropa.
Suatu hari atasannya menekannya agar menangkap tiga serangkai IP Wardi, Douwager dan Tjipto. Dia ditugasi mengawasi penangkapan itu dan juga harus menemukan alasan penangkapan. Alasan resmi adalah karena kegiatan jurnalistik mereka, buka karena politisi. Mereka dibuang ke Belanda.
Akhirnya Minke dibebaskan oleh gubernur jendral dari pembuangannya di Ambon tapi tekanan terus dilakukan. Sebelum Minke datang di Jawa istrinya sudah lebih dulu dipaksa pulang ke Ambon. Rumah dan semua asetnya disita. Semua temannya juga ditekan agar tidak mau menerimanya. Bahkan ketika dia sakit dokter dan rumah sakit dipaksa melayani dengan buruk sehingga akhirnya Minke meninggal karena sakit yang tidak ditangani dengan baik.
Buku ini punya banyak halaman yang dipakai untuk menggambarkan pergulatan pemikiran Pangemanann. Ada kekagumannya pada Minke. Ada keraguannya menangkap tiga serangkai IP. Ada deskripsi kepusingannya terjepit pekerjaan. Ada paparan perkembangan gerakan politik kaum pribumi Hindia. Ada ekspresi kesebalannya dengan atasan. Ada paparan situasi politik internasional di terutama di Eropa dan Asia.
Di buku ini Pram terlihat memiliki wawasan politik global. Dengan indah dia paparkan upaya pemerintah kolonial menaklukkan gerakan politik kaum pribumi dengan cara kotor dan keji seperti dalam penghancuran Minke, Siti Soendari dan Tiga Serangkai.
*
Jumat, 17 Oktober 2008
Rumah Kaca
Posted by Bambang Udoyono at 19.30 0 comments
Labels: Minke, Pramoedya, Syarikat Islam
Jumat, 19 September 2008
Gadis Pantai
Judul : Gadis pantai, 2002.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer.
Tebal : 270 halaman.
Inilah potret nasib buruk kaum perempuan desa di bawah feodalisme Jawa selama beberapa abad bahkan mungkin sampai abad 21 ini. Tokoh utamanya hanya disebut Gadis pantai, anak perempuan seorang nelayan miskin. Walau tanpa nama dia mewakili segolongan kaum wanita dari keluarga desa yang miskin dan tidak berpendidikan. Settingnya adalah kabupaten Rembang di pantai utara Jawa pada awal abad 20.
Suatu hari di umur empatbelas tahun dia dikawini oleh seorang pribumi pejabat pemerintah kolonial yang tidak dia kenal. Apa yang dia tahu hanyalah dia harus taat dan hormat pada suaminya yang dipanggil bendoro (sebutan kehormatan untuk kaum feodal Jawa). Sampai menikah dan punya anakpun dia tidak memiliki hubungan hati ke hati dengan suaminya. Tidak ada hubungan manusiawi. Di rumah tempat tinggalnya ada bagian di mana dia tidak pernah menginjakkan kaki, bahkan masih ada ruangan yang baginya tetap asing selamanya. Di rumah kabupaten itu ada beberapa anak yang tidak ada ibunya karena mereka sudah dicerai sedangkan anak anak itu diasuh pembantu.
Suatu hari datang Mardinah, seorang pelayan baru. Dia anak seorang jurutulis dari kota. Sikapnya berani kepada Gadis pantai karena dia merasa memiliki status sosial lebih tinggi. Belakangan terungkap bahwa dia diutus bendoro putri bupati demak untuk mengupayakan agar anak bendoro putri bisa dikawini oleh suami Gadis pantai. Mardinah diberi janji apabila berhasil maka dia akan diambil jadi istri kelima.
Secara ekonomi dan sosial memang gadis pantai mengalami kemajuan. Dia naik kelas sosial dan ekonomi. Ketika dia diberi ijin pulang ke desanya untuk menegok orang tuanya, orang se desa menyambut meriah dan memperlakukannya dengan istimewa. Dia biayai pesta dan dia beri kain kepada tetua kampung.
Suatu saat Gadis pantai hamil dan beberapa bulan kemudian melahirkan seorang anak perempuan. Jenis kelamin perempuan ini membuat suaminya kecewa. Tidak lama kemudian orang tua Gadis pantai datang menjenguk anak cucunya. Bendoro memanggil bapak Gadis pantai ke dalam rumah. Ketika keluar wajahnya sudah suram karena Gadis pantai sudah dicerai ! Bendoro memberi uang dan dia harus membawa Gadis pantai meninggalkan rumah bendoro segera, sedangkan bayinya harus ditinggal dan akan di asuh pembantu. Sampai di rumah Gadis pantai tidak mau tinggal. Dia memilih pergi entah ke mana membawa luka hatinya. Selama sebulan dia masih sering lewat depan rumah bendoro, menatap ke dalam tapi tidak berani masuk.
Kisah ini barangkali diilhami oleh kisah keluarganya. Ketika diwawancara majalah Time beberapa tahun lalu Pram mengungkapkan bahwa ada dua orang perempuan yang mempengaruhi hidupnya yaitu ibunya dan neneknya dari ibu. Kakeknya adalah seorang pegawai pemerintah kolonial yang menikahi seorang perempuan desa. Tapi perkawinan itu tidak berjalan lama. Neneknya lalu dicerai. Dia lalu pergi dari desanya. Suatu hari ketika ibunya sudah dewasa ada seorang nenek yang berjual beli barang bekas datang untuk bertransaksi. Setelah mereka ngobrol baru ketahuna bahwa itu adalah nenek Pram, ibu kandung ibunya !
*
Posted by Bambang Udoyono at 22.07 0 comments
Labels: bendoro, feodalisme, gadis, Java, Pramoedya